marquee

Silih Asih ku Pangarti, Silih Asah ku Pangabisa, Silih Asuh ku Pangaweruh
Tampilkan postingan dengan label Sajak Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Untukmu, Prajurit




Untukmu, prajurit
Engkaulah seorang abdi negara
Para tentara yang menjaga nusantara
Pasukan penyelamat di garda terdepan

Untukmu, prajurit
Berbaktilah kepada pertiwi
Ingatlah janji kepada negeri
Untuk menjaga persatuan dan kesatuannya

Untukmu, prajurit
Ragu bukanlah sikapmu
Maju adalah pilihan hidupmu
Prinsip perjalananmu bukanlah untuk mundur

Untukmu, prajurit
Kobarkan dan sebarkanlah api juangmu
Bukankah proklamasi itu bukanlah akhir?
Setialah menggenggam amanat para pahlawan

Untukmu, prajurit
Ketangguhanmu adalah ketangguhan istrimu
Tugasmu adalah keikhlasan istrimu
Pengorbananmu adalah kesabaran istrimu

Untukmu, prajurit
Berbanggalah menjadi pejuang tangguh
Percayalah, kelak anak-anakmu akan dengan lantang memanggilmu
Prajurit itu, dialah ayahku

Untukmu, prajurit
Deraskanlah makna sang saka merah putih di benakmu
Jiwa ragamu berdasar pancasila
Hanya untuk satu tujuan, Indonesia

*Ditulis dalam rangka Ulangtahun Persit 2015*





Rabu, 15 Mei 2013

Sebuah Lirik untuk Sahabat

Sahabat...
Senyum manis kalian...
Melekat erat dalam ingatan...
Pelukan hangat kalian...
Masih terasa di badan...

Sahabat...
Mentari tak akan bosannya bersinar
Menemani wajahmu yang terus berbinar
Dengan cahaya sebuah lentera
Kita bersama menggenggam cita-cita kehidupan

Kamis, 28 Februari 2013

Jangan Hilangkan 'Pawon' dari Peradaban

Jalanan hitam berliku membelah cadas
Truk berat itu tak henti-hentinya melintas
Menyatu bersama orang-orang yang sudah tak berparas
Bersatu dengan puluhan buldoser yang menggeruk karst

Runtuhan bukit itu menutup satu per satu lubang bumi
Perlahan hilang pula kekayaan bukit masigit
Hitam mengepul dalam biru yang selalu tertutup polusi
Ingin lubang itu dipenuhi gemericik air
Tapi, sekarang hanya menjadi kebisuan bumi

Aku dan Batu yang Beku

Diantara mentari yang enggan tersenyum
Diantara cerobong asap hitam yang terus mengepul
Langit itu, menghitam bisu
Deretan pabrik terus hidup
Menggerus karst kami yang kaku
Melukiskan tanah air kami yang beku
Antara Bandung Cianjur

Kami yang Perlahan Terusir

Mentari masih memancar di seantero negeri
Langit masih biru, melukis eloknya pertiwi
Pohon rindang masih berjejer di jalanan kota kami
Orang-orang masih berlalu lalang disini

Ketika dulu hanya sepeda yang memecah jalanan
Sekarang sudah sepeda motor yang memakai mesin penyumbang polusi kota
Ketika dulu mobil mini bus yang melintas
Sekarang sudah mobil beroda banyak yang menggeleng jalanan depan rumah

Ah.. desa kami sudah menjadi kota industri
Hutan kami, sudah berganti  gedung pabrik
Kebun kami, sudah beralih fungsi menjadi lapangan parkir
Udara bersih kami, sudah berubah menjadi polusi

Rabu, 20 Februari 2013

Di Atas Asap Papandayan

Di atas asap Papandayan
Ku ukir kata demi kata di hadapan semburat garis orange

Di atas asap Papandayan
Tertancap tebing kokoh mengelilingi kawahmu

Di atas asap Papandayan
Ku berdiri berselimut dingin yang perlahan sirna
Dalam gelap yang perlahan berganti terang
Diantara bulan yang mulai mengalah pada sang mentari

Di atas asap Papandayan
Biru langitmu berikan damai
Ranting-ranting keringmu kembali membuatku tersadar
Akan jerit hutanmu yang terbakar
Ya, disapu si jago merah

Di atas asap Papandayan
Terlukis eloknya nusantara
Terbukti indahnya pertiwi ini
Dan tertancap kecintaan akan tanah air


***Hutan Mati Papandayan, 31 Agustus  2012***

Merdeka Hanya Seruang Sang Penguasa

Lagi-lagi datanglah hari itu...
Ya, hari yang konon katanya negeri ini merdeka...
Hari ke tujuh belas di bulan agustus...
Hari dimana Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan...
Hingga hinggap sebuah tanya, merdeka dari apa???
Merdeka dari penjajah???
Benarkah???
Dulu memang sang pahlawan berperang...
Dulu memang para pemuda maju ke gelanggang...
Dulu memang ke penjajah kita menyerang...
Sudahkah itu disebut merdeka???


Lagi-lagi datanglah hari itu...
Ya, hari yang konon katanya negeri ini merdeka...
Hari ke tujuh belas di bulan agustus...
Ketika orang ber-jas itu tersenyum,
Kami hanya bisa tertunduk,
Ketika para orator itu berkoar-koar,
Kami hanya bisa menahan lapar,
Ketika pengusaha semakin subur,
Kami hanya semakin terkubur...
Sudahkah itu disebut merdeka???


Lagi-lagi datanglah hari itu...
Ya, hari yang konon katanya negeri ini merdeka...
Hari ke tujuh belas di bulan agustus...
Mereka beramai-ramai merayakan hari itu...
Tapi, apa yang harus kami rayakan???
Haruskah merayakan sanak saudara kami yang mati?
Haruskah merayakan kami pun yang perlahan mati?
Mati karena terjajah orang yang mengaku saudara setanah air...
Mati karena sakit hati melihat pertiwi...
Mati karena kecewa para petinggi kami korupsi...
Mati karena sedih melihat seisi negeri...
Mati karena melihat petinggi sudah tak peduli...


Lagi-lagi datanglah hari itu...
Ya, hari yang konon katanya negeri ini merdeka...
Hari ke tujuh belas di bulan agustus...
Kami hanya bisa menutup mata kami
Dari kesedihan tanah kebun kami yang berubah menjadi industri
Kami hanya bisa menutup kekecewaan kami
Dari kesedihan melihat wakil kami hanya mengejar materi
Kami hanya bisa menutup harapan kami
Dari orang-orang yang ternyata sudah tak peduli


Lagi-lagi datanglah hari itu...
Ya, hari yang konon katanya negeri ini merdeka...
Hari ke tujuh belas di bulan agustus...
Ketika gedung-gedung semakin tinggi
Ketika industri semakin menguasai
Ketika pabrik semakin menjadi
Ketika penguasa sudah tak berhati
Ketika dewan yang mewakili kami sudah tak peduli
Katika tanah, udara dan air kami sudah tercemar polusi
Ketika rumah kami tertutup debu yang mencemari
Ketika air tak lagi mengalir
Haruskah kami dengan lantang berteriak merdeka?

Perih kawan...
Melihat merah putih yang berkibar karena sebuah keinginan
Ya, keinginan untuk merdeka tentunya
Merdeka di seantero nusantara
Tapi, realita kami sudah sangat jauh dari sejahtera
Dan akhirnya, merdeka pun hanya seruan sang penguasa



**Marlina Senja Utami**
Menyambut kemerdekaan RI ke-67, 17 Agustus 2012
Terinspirasi ketika menyusuri jalanan Karawang Selatan
Teruntuk rakyat yang sekarang sudah perlahan terkubur di tanah airnya sendiri




Selasa, 03 April 2012

Rintikan Mata Air Gua Walet

Semangat yang terus menggebu
Mengantarkanku untuk sampai di sebuah gua
Gua diantara tebing – tebing yang kokoh
Gua diantara eddelwise yang abadi sepanjang masa
Gua yang menyimpan mata air
Pelepas dahaga para petualang
Dalam gua  ku berlindung
Dari gerimis yang turun kala itu

Semalam di Cigowong

Hujan yang turun senja itu
Menghentikan perjalananku menuju indahnya puncak tertinggi Jawa barat
Canda tawa tetap terpancar
Di wajah para penggiat alam bebas
Rintikan hujan itu
Membuat dingin yang menusuk tulang
Tetapi,,,,

Pendaki Misterius Ciremai

Dingin yang menyelimuti senja itu
Tak menggentarkan jiwaku  untuk terus berjalan
Pos demi pos ku lewati……
Tiba waktuku berhenti sejenak
Terlepaslah sedikit lelahku

Senin, 19 Desember 2011

Purnama di Suryakencana

Kala ku terdiam dalam dinginnya lembah Suryakencana
Dikaki Gunung Gede yang tertutup kabut putih
Malam yang panjang harus ku lewati
Ditemani angin yang bertiup di lembah eddelwise
Bersama teman bercengkrama bersama
Tertegun dalam pandangan
Kala purnama itu muncul di balik bukit
Malam yang gelap gulita tanpa lentera
Seakan terang benderang dengan purnama yang bersinar terang di langit biru yang penuh kedamaian
Lembah eddelwise seakan bersinar
Menerangi hati yang redup
Menerangi hati yang sedang sakit
Subhanallah..
Hanya itu yang dapat ku ucap
Tatkala jiwaku terpukau akan indahnya purnama di Suryakencana
Hingga akhirnya ku tertidur lelap
Hingga ku terjaga kala mentari menyambut pagi yang cerah di lembah eddelwise

Jumat, 09 Desember 2011

Tanah Air, 26 Oktober 2010

Bencana tak bosannya menghampiri
Gempa mengguncang tanah andalas kembali
Mentawai disapu Tsunami
Korban serta air mata kembali jatuh di tanah pertiwi

Jakarta tak luput dari kemarahan alam
Banjir menyapu Ibukota
Warga kembali ke pengungsian…
Relawan kembali ke lapangan

Tak cukup sampai Ibukota…..
Sang Merapi mengeluarkan Wedhus Gembelnya
Hujan debu menerpa
Letusan di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Menambah panjang sejarah bencana Nusantara

Akan tetapi,,, kenapa sang pemegang kebijakan tetap menggerogoti harta rakyat kecil?
Iba hatiku… realita negeriku seperti ini
Sedih jiwaku melihat ukiran perih pertiwi
Di 26 Oktober 2010

Kamis, 08 Desember 2011

Harapan dalam Rintikan Hujan

Suara alam terdengar merdu
Bersama suara hujan yang menderu
Bagai bala tentara yang menyerbu
Menjadikan semangat ini terus menggebu