marquee

Silih Asih ku Pangarti, Silih Asah ku Pangabisa, Silih Asuh ku Pangaweruh
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2021

TERBANG DI MASA PANDEMI (JAKARTA - LOMBOK)

  



 Hampir setahun sudah pandemi SARS-CoV-2 atau yang akrab dikenal dengan virus corona menyelimuti pertiwi. Dengan adanya pandemi ini, tentunya berpengaruh terhadap tatanan kehidupan di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. 

    "Siapa yang rindu berwisata?"
    "Saya!", dan mungkin banyak orang di luar sana yang merindukan traveling dari satu tempat ke tempat lainnya. 

    Akhir-akhir ini saya banyak mendapat pertanyaan tentang pariwisata, diantaranya adalah bagaimana keamanan dan mekanisme terbang di masa pandemi. Pada kesempatan ini, saya akan kupas tentang penerbangan di masa pandemi berdasarkan pengalaman saya pribadi. Oleh sebab itu, mungkin pengalaman saya dengan teman-teman berbeda. 

Kamis, 22 Maret 2018

Kota Istimewa itu Bernama YOGYAKARTA

Menuju Bandung ...



Kesejukan pagi itu menemani perjalanan menuju Stasiun Bandung. Berubah dari plan awal yang sudah tersusun sedemikian rupa tentang transportasi Karawang - Bandung, kali pertama saya menjadi penumpang gelap (untuk bagian ini tidak untuk dipublish, pertolongan Allah itu selalu datang di saat yang tepat).

Stasiun Bandung
Pagi itu, Stasiun Bandung basah akibat guyuran air dari langit. Sepiring nasi uduk dan segelas teh manis mengisi perut yang mulai protes karena belum terisi. Saya bersama teman berjalan kali ini, cukup menikmati sarapan kami. Tenang, sebelumnya kami telah menyelesaikan proses chek-in ticket online (tinggal masuk stasiun dan melewati pemeriksaan identitas saja).

*Info Penting*

Tiket kereta api sekarang sudah bisa dipesan jauh-jauh hari melalui situs resmi PT. KAI di www.kereta-api.co.id. Selain itu, bisa juga melalui lembaga-lembaga yang sudah bekerjasama dengan PT. KAI lainnya (tinggal searching di google sebenarnya). 

Kamis, 19 Januari 2017

Gereja Ayam - Burung dari Surga

Halaman Gereja Ayam 


Magelang 2017

Matahari mulai beranjak kembali ke peraduannya di ufuk barat. Hari yang cerah, walaupun sebelumnya mendung sempat bertegur sapa, walau tanpa membawa sahabatnya, hujan. Beberapa kilo meter dari candi budha terbesar di dunia, terdapat satu gereja tua yang dibangun sekitar tahun 90-an oleh salah seorang umat kristiani dari Jakarta bernama Daniel Alamsyah.

Gereja Ayam, Rumah Doa Rhema, Bukit Rhema, Gereja Rhema, Gereja Merpati

Mungkin itulah beberapa julukan untuk menyebut tempat tua berarsitektur unik ini. Setidaknya orang-orang di luar sana lebih mengenalnya dengan sebutan Gereja Ayam. Gereja atau disebut pula rumah doa ini berada di Dusun Gombong, Desa Kembang Limus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang - Jawa Tengah ini berada di atas punthuk atau bukit yang dikelilingi oleh hutan yang hijau. Hanya butuh sekitar 10-15 menit dari Candi Borobudur atau kurang lebih 1,5 jam dari Kota Yogyakarta agar pengunjung dapat mencapai tempat ini.

Menara Gereja Ayam


Selasa, 10 Maret 2015

Gunung Munara : Menikmati Ketinggian di Rumpin Bogor



Top Munara (Photo by : Hasbi)


Gunung Munara, ada yang tahu teman pembaca?

Iya, gunung ini memang tak seterkenal Gede-Pangarango ataupun Salak yang sama-sama berada di Bogor. Sebenarnya saya pun tahu baru 2 minggu sebelum perjalanan saya ke gunung ini. Berawal dari foto-foto yang di share para penghuni Lantern House (sebut saja jajaka Sunda "Danceu", pace keturunan Sunda yang numpang lahir dan hidup di Papua "Givan", dan keturunan Muara Enim yang sering ngaku orang Palembang "Ari"). Bagi saya, foto-foto mereka itu bagaikan racun mematikan yang siap menyiksa batin saya ketika saya tak dapat mencapainya. Sialnya, mereka ngeracun secara terus menerus di saat saya terpenjara dalam rutinitas pekerjaan, puas kalian! ah sakitnya tuh di sini *nunjuk jantung terdalam*.

Sabtu, 07 Maret 2015

Pergantian Tahun di Gunung Berbatu

Bersama para kuda bermesin kami (Photo by : Adji Kembara)
31 Desember 2014

RideX (tanpa nama, sampe sekarang aja belum nemu nama yang cocok buat doi) yang biasa disebut kuda bermesin inventaris Pelita milik Ketua Umum ini melaju bergegas ke Barat dari Selatan Karawang. Tetap dengan gaya OKE ala Pendaki Gunung Amatiran yang bercampur debu jalanan, sampailah kami di daerah yang mendadak terkenal gara-gara adanya "Si Wakwaw" (tebak sendiri lah, pada hafal kan!). Perhitungan yang salah, dan ke-sok-tauan kami (iyah, gue sama Hasbi) menjadikan kami terlambat sampai di meeting point dengan para jingga yang lain. 

Bermodalkan peta offline HP dan informasi via WhatsApp, dengan wajah tanpa dosa bercampur senyuman manis dan disambut gerimis, sampailah kami di warung pojok (entah siapa yang ngasih nama warung pojok). Salaman dengan basa-basi busuk serta jutaan alasan keterlambatan cukuplah membuat kami berdua jadi bahan cibiran dengan alasan keterlambatan (katanya cuma setengah jam, gak taunya.... "sorry guys, miskom sama petanya" :))

Rabu, 04 Maret 2015

Pulau Kemaro, Delta Kecil Sungai Musi

Palembang, 26 Desember 2014

Ampera dari Tengah Sungai Musi (Photo by : Ode)

Siang ini Palembang seakan menjadi sebuah kota dengan intensitas panas matahari berlevel AWAS. Ah, sungguh kota ini tak lebih panas dari Jakarta atau Karawang sekalipun. Kesejukan kota sebelumnya yang dikunjungi membuat saya sedikit ngarumas di kota dengan ikon Jembatan Ampera yang membelah jalanan di atas Sungai Musi.

Pinggiran Sungai Musi memang menjadi tempat yang cocok untuk memancing ikan atau sekedar nongkrong-nongkrong cantik sambil menanti matahari terbenam di barat. Di antar angkot dengan playlist "Duri Terlindung"nya Nike Ardila, sampailah 5 orang anak ilang yang gak pada pengen pulang (red: Bapak Adat "Ode", Porter yang selalu gagal jadi Guide "Ramdee alias Ari", Si Beruang Musi "Hamda", Kakak Jutek yang agak penakut "Hendra" dan saya sendiri wanita paling tangguh di antara semua "Alin"). Selain kami berlima, ada juga tiga orang akamsi yang katanya terlibat cinta segitiga (ceritanya menyusul).

Selasa, 03 Maret 2015

Dempo, Menapak Dua Puncak Sumatera Selatan

Tiket Sinar Dempo Executive Class Bus (Photo by : Alin)

17 Desember 2014

**Pagi di Karawang...**

Pagi itu tak seperti biasanya, yang biasa bangun (ke)siang(an) ataupun sekedar leye-leye di kamar. Maklumlah, pekerjaan mengolah nilai dan rekapitulasi segala macamnya sudah selesai diberikan kepada para wali kelas masing-masing. Carriel 40L dan si imut 12L sudah siap menjadi teman sekaligus sahabat perjalanan saya kali ini. 

Diantar sang bapak tercinta ke tempat perlintasan bus (sampe Interchange Karawang doang kok, gak sampe Kp. Rambutan) cukup membuat hari itu semakin istimewa. Diantar dengan restu dan doa orang tua itu jarang-jarang loh untuk anak ilang yang susah pulang seperti saya. Bersama bus Agra Mas jurusan Karawang-Kp. Rambutan sampailah saya di tempat yang sudah disepakati dengan teman berjalan saya yg lainnya. Iya, di deket Pool Bus Sinar Dempo sebelum jam 10.00 WIB, iya, ini masih jam 09.00 WIB loh, maklumlah... jalan tol hari itu lancar pake banget. 

Teman berjalan saya kali ini adalah bersama bapak adat Saiful Amin Zay (Ode), dan seorang anggota muda yang langsung saya angkat jadi porter Pelita yang selalu gagal jadi guide, Ramdee (Ari), tak lupa Hamda "Si beruang musi" dan kakaks Hendra Nugraha "Si jutek tapi penakut". Petualangan pun dimulai ketika bus Sinar Dempo kelas Executive (katanya) dengan Nopol BG 7027 W memasuki wilayah terminal tempat kami menunggu.

Jumat, 30 Januari 2015

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part - 6)

Ah harus berpisah :((


Malam tadi tak sedingin malam di Plawangan Sembalun. Tak ada yang membangunkan dini hari untuk summit, dan berasa badan ini ada di kondisi yang lebih baik. Hai mentari, terimakasih telah menyapa pagi ini walau embun masih enggan beranjak. Ah rasa tak sabar melihat Segara Anak menjadi pemicu saya untuk bergegas keluar tenda. Ah tenangnya hidup di lingkungan seperti ini. Jauh dari keramaian kota yang penuh polusi dan kebohongan para politisi. Senyum itu terukir karena menemukan secangkir kopi panas, yaaa bahagia itu sederhana.

Kamis, 29 Januari 2015

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part 5)

Rinjani (Photo by : Paps Muchlis)


"Pak Bos, ini teh hangatnya sudah saya buatkan" suara Bang Ma Win membangunkanku. Yaaaaa, jujur saja dinginnya bikin saya malas untuk keluar dari selimut tidur ini. Walaupun begitu, tekad saya untuk sampai di salah satu 7summit Indonesia ini tak boleh saya sia-siakan. Dengan berat hati pun, akhirnya saya keluar dari tenda disusul Ikhwan dan Desi yang sudah terjaga pula. 

Dibantu Ikhwan, saya pun mempersiapkan perlengkapan untuk summit dini hari ini. Headlamp pun setia menempel di kepala saya ditemani sarung tangan yang tak akan saya lepas sampai mentari datang #sikap. Teh manis hangat dan roti tawar pun menjadi santapan saya kala itu. "Harus sarapan, biar gak masuk angin, lin!" begitulah ucapan Bang Ma Win yang masih sibuk membantu perlengkapan summit kami. 

Selepas semua siap untuk berangkat, berdoa memohon perlindungan dan kelancaran atas perjalanan kami. "Berdoa dimulai".

Kamis, 15 Januari 2015

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part 4)

Pos 3 (Photo by : Tyo Angga)
Selimut tidur yang memeluk kami semalaman suntuk, harus kalah oleh embun pagi yang datang terlalu pagi. Hai mentari, engkau belum tampak tapi mataku sudah mulai terbangun dari mimpi panjang. Yaaaaa... porter kami pun sudah siap menjamu dengan teh manis hangat yang menyegarkan raga. Senyuman mas Mawin dan Pak Muzi membuat saya malu untuk kembali ke tanda (niatnya mau bobo lagi,,,, dinginnya berasa Tuhan ).

Menikmati suguhan alam yang secara alamiah bisa dinikmati dengan mata telanjang, tanpa harus bermodalkan lensa tele yang katanya bisa memotret keindahan alam yang sebenar-benarnya. Ah, walau dengan bantuan alat bantu penglihatan, mata saya tetap dapat menikmati anugrah Tuhan yang tiada dua ini.

Rabu, 14 Januari 2015

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part - 3)

Berangkaaaatttt (Photo by: Paps Muchlis)
Selamat pagi bumi...
Selamat merasakan rasa bahagia yang tak terkira...

Ayam pun menjadi alarm alamiah kami pagi itu.
Masing-masing dari kami sibuk mempersiapkan logistik dan perbekalan kami untuk perjalanan panjang kali ini. Mencoba menggendong perbekalan yang sudah dipacking rapih di carriel "Deuter Futura Pro 42" siap menjadi teman setia yang mungkin akan membuat tenaga saya cepat terkikis. 

"Dicoba dulu, dung!" sapa Ikhwan yang membuyarkan lamunanku. Sontak seketika itu juga carriel itu pun aku gendong. Berat yang tak sesuai dengan postur badanku, membuatku sedikit ragu untuk membawanya sampai ke Plawangan (camp terakhir sebelum summit). Tak berhenti di sana, saya pun mencoba carriel-carriel lainnya (read : Ikhwan dan Desi),, yaaaaa mereka sama-sama berat juga toh! walaupun punya Ikhwan jauh lebih berat, dan Desi jauh lebih ringan. Okeeee... meeting kecil-kecilan kami bertiga bermuara pada satu kesepakatan "sewa porter aja deh, gak yakin gue sama bawa bawaan beginian". Dengan keputusan itu, mendadak nafasku yanng sesak menahan beban, sedikit lebih lega. Akhirnya Pak Muji menjadi porter dadakan kami... Sumpah berasa senang sekali saya, maklumlah... awalnya ragu banget bawa bawaan yang beratnya pake banget. 

Setelah semua kembali dipacking dan dibereskan,,, alhasil barang bawaan saya mendadak ringan "horeeeee". cheerrssssss... dan Bismillah... go go go Rinjani...

Kamis, 30 Oktober 2014

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part - 2)

Bandara International Lombok (BIL) Photo by : Tyo Angga
Cukup 2 jam untuk sampai di airport Lombok (LOP) *lebih sebentar daripada waktu tempuh rumah saya ke Soeta. Lombok memiliki bandara yang luas dan lebih dikenal dengan nama BIL *singkatan dari Bandara Internasional Lombok. Bandara ini berada di Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah yang berfungsi sejak 1 Oktober 2011 menggantikan bandara sebelumnya yaitu Bandara Selaparang Mataram.

Berbicara Lombok, kesan pertama yang saya dapatkan adalah panas dan gersang, kayaknya panasnya itu gak jauh beda sama Karawang ataupun Jakarta, tapi kegersangan itu terbayar dengan petualangan yang saya dapatkan di timur Indonesia ini.

Senin, 13 Oktober 2014

Rinjani... "Mengunjungi Langit Dewi Anjani" - (Part - 1)


Garuda Indonesia of Ticket (Photo by : Alin)

Ini adalah Idul Fitri...
Hari itu, takbir berkumandang di seantero negeri, Lafadz Allahu Akbar terucap di setiap lisan umat Islam. Ya, hari itu adalah hari Idul Fitri, perayaan lebaran setelah berpuasa di bulan ramadhan. Dan hari itu, hari yang cukup membuat saya senyum-senyum sendiri. Ya, malam ini juga perjalanan panjang akan dimulai :) ***saatnya jalan-jalaaaaaan, yeeeah!!!!

Sanak saudara silih berganti mengunjungi rumah ini. Kue, minuman segala jenis *berlabel halal* seakan siap disantap kapan pun saya mau. Di sudut rumah saja yang sedikit berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Perlengkapan perang saya di negeri orang siap memanjakan saya selama delapan hari ke depan (perlengkapan perang ini tanpa meriam dan peluru yang mematikan, #noted). Sleeping Bag, Jaket, baju ganti (yang katanya kebanyakan), matras, kaos kaki dan pacarnya si sarung tangan, sepatu yang belum lama dibeli berdasarkan hasil kegalauan, dan perlengkapan lainnya yang sampe lupa disebutin satu-satunya. Semuanya, sudah siap untuk dibawa menelusuri belahan surga Indonesia. 

Tik tok tik tok tik tok, Selepas dzuhur yang biasanya saya menjadi bakso hunter bareng sepupu yang datang dari berbagai penjuru mata angin, tetiba beralih menjadi seorang wanita rumahan **sumpah, gak keluar rumah sama sekali setelah shalat ied dan ziarah ke pemakaman keluarga**. Yaaaa perlu diketahui, pekerjaan saya saat itu di rumah cuma menerima tamu, dan menjadi manusia yang tak pernah lelah melihat jam dinding rumah menit demi menitnya. **ngarep dapet uang saku lebih dari bendahara keluarga karena menjadi anak baik yang anti ngayab, walau buat saat itu ajah** Walaupun, kegalauan saya mulai timbul ketika intensitas bapak menanyakan orang Harapan Baru Bekasi tiba-tiba meroket "kapan dijemput?, tuh langitnya mendung, ini udah sore" dan pertanyaan dibarengi penyataan lainnya yang cukup membuat dag dig dug der daia... :( #tripsayakaliiniterancamgagalTuhan

Yaaaa, jam 8pm itu mungkin belum malam, tapi hari sudah gelap captain... sang pangeran berSupra Fit pun baru kelihatan di depan gerbang rumah sebari senyum-salam-sapa ala anak sekolah yang kesiangan memasuki wilayah zonk guru piket! #halah... 
Dengan muka polos tanpa dosa *iya da baru lebaran* tetiba nyodorin carriel bermerk Deuteur futura Pro 42 yang siap menjadi pacar dari punggung yang haus akan dekapan cinta si tas punggung.


Packing di waktu mepet ituuuuuu GAK SUKA, maklum trauma pendidikan di kampus yang packingnya dipaksa berkecepatan cahaya... Akhirnya saya terpaksa melambai-lambaikan kain putih ibarat  menyerah pada sang musuh, pak captain bisa bantu packingin gak? merayu sambil senyum, yaaa berharap tidak diledek sepanjang perjalanan nanti... Anggukan kepala saya pikir menjadi tanda "ya" atas permintaan yang seharusnya gak usah diminta. Haha
Dalam waktu singkat, semua barang yang sudah 3 hari diamparin di alketif sederhana yang sudah perlahan lusuh pun lenyap disantap carriel yang sudah kokoh berdiri sendiri...


Packing done, makan malam selesai, dan ijin pun sudah berada di lampu hijau... Diakhiri ciuman pada tangan orang rumah, kuda besi yang FIT ini pun perlahan meninggalkan gerbang besi yang mulai ditutup oleh sang empu rumah.

Karawang  - Bekasi via Kalimalang malam itu tak semulus biasanya. Rintikan hujan menjadi hambatan yang harus kami hadapi... "Ada raincoat?" yaaaa saya sih ada, "kamu?" gelengan kepala, ya lagi2 bahasa tubuh itu langsung saya mengerti. Berhentilah di warung yang tak berpenghuni, gelap, dan untungnya bukan hanya kami yang numpang berteduh di sana. Bukan karena so berani diam di tempat yang gelap, karena tak ada lagi tempat terdekat untuk kami berteduh. So, setelah airnya kembali pada dekapan sang langit, perjalanan pun dilanjutkan. BEKASI, ya sepertinya tidak jadi planing A'ya, melihat waktu yang sumpek kayak bus trans Jakarta saat jam kerja, dan kondisi fisik yang mulai capek dengan agenda lebaranan, saya pun ditunda di salah satu tempat makan 24jam non stop yang gak jauh dari istana sang  kuda besi.

Tek tok tek tok tek tok, makanan sudah sirna, minuman pun sudah lenyap tak bersisa, penantian panjang itu pun akhirnya berakhir. Pria dengan perawakan marinir pun datang. Pesan makanan - makan - cus...

Awal penderitaan guys...
Ya, versi saya sih menderita itu di sini. Jalan kaki sh enggak, tapi pegelnya udah kayak turun Ciremai via Linggarjati. Carriel yang beratnya segaban pun dipaksa bercumbu bersama paha saya yang terbungkus celana berkantong yang saya kenakan, ya tak lupa satu carriel lagi masih setia menempel di punggung yang tetap saja menopang pada organ bernama bahu. Perfect kan pegelnya!!!

Lewat tengah malam, sampailah kami di rumah adek manis yang model shampo sun***k yang dikelilingi wajah-wajah tak asing bagi saya. Bontot, Apoy dan kembarannya, serta keluarga Desy yang sepertinya begadang demi menunggu kami datang. Pemandangan di sana memang tak menyenangkan *lirik logistik yang gak cukup dimasukin dalam carriel Apoy dan juga Desy. **Mamaaaaah, terancam packing ulang,bongkar carriel. Yaaaaaaaa, memang harus dan terpaksa *langsung bayangin gendong tuh carriel2*

Singkat ceritaaaa.... *****
Mobil pun siap mengantar kami ke Soeta, dengan waktu yang mepet *bagi Apoy*, ditambah paket titipan orang tua saya ketinggalan di rumah Desy, dag dig dug der pun menghampiri Apoy *inget loh yaaaa, hanya Apoy* so, kita masih santai sih... Maklum lah, efek di sms terus sama sesepuh kami, panggil beliau dengan sebutan papah **biar di list di daftar ahli waris**.

Apoy diturunin di terminal keberangkatan pesawatnya, sedangkan kami labas menuju terminal berikutnya. Da apa atuh aku mah, pisah pesawat juga sama papahku tercintah... Maap pah, bukan bermaksud.... *tunggu lanjutan kalimatnya*

Ngantuk yes, tidur no... Mau tidur di mana dengan bawaan segini rempongnyaaa... Demi Apoy, apalah daya, pesawat kami lebih lama waktu take off'ya daripada mereka, dan rumpi versus selfie jadi pilihan saya... kecuali si cowo yang berbadan marinir, abaikan dalam kegiatan kami ini. Hahaha
Tak ada yang spesial di kegiatan menunggu sampai akhirnya naik pesawat... Maklum lah, efek lelah dan ngantuk mungkin....


Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA434, siap mengantarkan saya untuk mengunjungi salah satu surga yang dimiliki pertiwi. 5.30am, akhirnya terbanglah saya di seat 27B bersama kedua orang yang sudah tampak lelah di samping saya.

Minggu, 31 Maret 2013

Cikuray, Swiss Van Java Bumi Priangan


Siang itu, 3 Agustus 2012...
Masih dalam suasana ramadhan, barang-barang yang hendak dibawa nge-trip sore ini satu persatu masuk ke dalam ransel biru itu. Tujuan hari ini katanya Gunung Cikuray, 2818 mdpl, gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat. 

Siang menjelang sore itu, Faudzil Irfan *(sebut aja Ucil) sudah menjemput ke kamar kosan kecil yang tak jauh dari UPI. Januar (sebut Janu) dan temannya Rudi, sudah sampai di Bandung dan tatkala itu sedang berada di kosan Galih Yusuf Laksana (sebut Galih). Mereka berdua sengaja datang jauh-jauh dari Bogor untuk ikut Trip ke Cikuray hari ini. Panas dan dahaga sudah pasti dirasa, secara sedang terik-teriknya matahari dalam kondisi sedang berpuasa *wow!!!. Packing selesai, Ucil pun datang... capcus ke kosan Galih *tempat kumpul sebelum keberangkatan kita ini. 

Sampai di sana, baru nyadar kalau yang berangkat ngetrip hari ini hanya enam orang saja, inget ya saudara-saudara Just six people. Aku, Ucil, Galih, Bendul, Janu, sama Rudi.... Yah just one woman, it's me!!! okesip!!! Yang bagian belanja perbekalan sekarang adalah Galih dan Bendul, sedangkan aku haha hihi saja bareng Ucil, Janu n' teman baru saat itu, Rudi. Memang menunggu mereka belanja itu tak lama, secara anak cowo gitu! masa iya belanjanya kayak anak cewe!!! 

Hari semakin sore, matahari sudah berada di ufuk barat hendak menenggelamkan dirinya. Enam orang dengan tiga motor membelah jalanan kota Bandung. Karena memang sudah sangat sore, sampai Dipati Ukur, adzan magrib pun berkumandang. Aku dan Ucil berhenti di warung pinggir jalan, hendak berbuka puasa. Alhamdulillah.. ketika seteguk minuman teh gelas masuk ke dalam kerongkonganku yang sudah kering tak terbasuh air sejak terbit fajar. Empat teman kami ternyata sudah sampai Gedung Sate, kami pun janjian bertemu di sana. Setelah berbuka seadanya, perjalanan pun di lanjutkan ke Gedung Sate.Tiga motor beriringan di sela-sela ramainya kendaraan di Kota Bandung. Lapar sudah tak tertahankan, warteg pinggiran jalan Cibiru adalah pilihan kami saat itu. Langsung setiap orang memesan makanan yang sudah mbak warteg persiapkan. 

Perjalanan dilanjutkan....

Selasa, 26 Maret 2013

Berdiri di Puncak Para Dewa

Senja, lembayung perlahan menenggelamkan matahari, sang sumber kehidupan...
Tiga orang dengan carriel di punggungnya dan sepatu trek menutup kakinya dengan cepat menyebrang di Simpang Dago, ya abis gak ada angkot langsung buat sampe lokasi menginap malam itu. Harus dua kali, malas naik turun angkot, kami putuskan berjalan kaki... Helooow, ini masih di Kota Bandung, kenapa harus memulai jalan??? *gerutu dalam hati.

Dipati Ukur memang jalanan ramai oleh keramaian kendaraan bermotor yang berlalu lalang *entah mau ngapain. Deretan travel Bandung ke berbagai kota tampak berjejer di pinggir jalanan. Pertigaan menuju kosan RASYIDA HASANAH *panggil OCHI aja biar simpel, masih lumayan. Hmmmm... ya itung-itung pemanasan kaki buat trekking nanti kali yaaaa.. (padahal sebenarnya ogah banget jalan dari Simpang Dago).

Hampir terlewat, dan akhirnya sampailah di tempat tujuan, kosan Ochi sudah penuh sama orang-orang yang esok pagi hendak beranjak ke Malang, yaaaa Malang Jawa Timur ini mah. Kakak tertua SAIFUL AMIN ZAY *panggil dia ODE sudah terlelap tertidur, begitu pun dengan AGIL dan JHONI. Lah, apa aku kemaleman sampe sini gitu? ya sudah ikut istirahat aja ah, biar besok fit juga kan! toh harus ngejar kereta  Pasundan jurusan Surabaya jam 6.00 (teng, tanpa telat) di Stasiun Kiara Condong.

Senin, 28 Mei 2012

Lalampahan ka Gunung Pangrango



Mandalawangi mangrupa savana édelwis anu aya di Gunung Pangrango. Savana nu diapit ku dua pasir ieu, sacara administratif asup ka Kabupatén Bogor, Kabupatén Sukabumi jeung Kabupatén Cianjur.
            Tiris, tangtu kesan nu mimiti pikeun kuring basa kaluar tina beus Garuda Pribumi jurusan Bandung-Merak. Turun pas di daérah Cipanas, pertigaan anu rék ka Cibodas. Peuting nu simpé, da geuning nalika nempo arloji téh geus jam 11 peuting. Angkot nu biasa aya di éta pertigaan, ari peuting mah euweuh hiji-hiji acan. Untungna wéh aya babaturan kuring anu geus nepi ka warung Bu Dé, tempat mondok kuring jeung babaturan nu rék naék isukan. Satengah jam nungguan di éta pertigaan, ahirna datang ogé nu ngajemput kuring téh. Tuluy kuring naék motor bari mawa ransel nu geus pinuh ku barang-barang pikeun naék gunung. Nalika kuring nepi warung Bu Dé, langsung wéh sasalaman jeung babaturan kuring nu séjénna bari tuluy léos ka jamban, tuluy istirahat sangkan isukan lalampahan, kaayaan awak geus siap.